Ayunda melangkah tergesa-gesa di koridor kampus, setumpuk buku sastra klasik dipeluk erat. Angan-angannya melayang pada novel yang sedang ia tulis, tentang seorang gadis yang berani melawan takdir. Ia tak menyadari bus kota yang melaju kencang di ujung jalan. Detik berikutnya, semua menjadi gelap.
Ketika Ayunda membuka mata, kepalanya pening. Ia tidak lagi berada di koridor kampus, melainkan di sebuah kamar mewah dengan perabotan mahal. Sebuah cermin besar di sudut ruangan memantulkan sosok asing. Wajahnya cantik, dewasa, dan dipenuhi lebam. Ia terkejut melihat gaun sutra yang membalut tubuhnya. Tubuhnya ramping, berbeda dengan tubuh Ayunda yang berisi.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya memasuki ruangan dengan raut wajah khawatir. "Nyonya Cecilia, Anda sudah sadar? Syukurlah."
Ayunda terdiam. Cecilia? Ia tidak mengenal nama itu.
Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Bibi Yuni, kepala pelayan di rumah ini. Bibi Yuni menjelaskan bahwa Ayunda, atau kini Cecilia Gunawan, baru saja sadar dari koma setelah mengalami kecelakaan mobil. Bibi Yuni juga menjelaskan bahwa Cecilia adalah istri dari Aditama Gunawan, seorang CEO yang dingin dan kejam.
Ayunda tidak mengerti. Ia Ayunda, bukan Cecilia. Ia seorang mahasiswa sastra, bukan istri seorang CEO. Ia mencoba menjelaskan, tetapi Bibi Yuni hanya tersenyum maklum. "Nyonya pasti masih bingung. Dokter bilang, Nyonya mungkin mengalami amnesia ringan."
Ayunda pasrah. Ia kini terjebak di tubuh Cecilia. Hari-hari berikutnya adalah neraka. Aditama Gunawan, suaminya, sangat menakutkan. Matanya dingin, tatapannya tajam, dan suaranya datar. Ia memperlakukan Cecilia seperti benda tak bernyawa. Aditama Gunawan hanya muncul saat makan malam, itu pun dengan suasana canggung dan hening. Cecilia, atau Ayunda, merasa tak berdaya. Ia merindukan kehidupannya dulu, yang penuh dengan buku dan kebebasan.
Suatu malam, Aditama Gunawan pulang lebih awal. Ia menemukan Cecilia sedang membaca buku di perpustakaan. Bukan novel romantis yang biasa dibaca Cecilia, melainkan buku filsafat yang tebal. Alis Aditama Gunawan terangkat. "Sejak kapan kamu suka buku seperti ini?"
Ayunda tidak tahu harus menjawab apa. "Saya... hanya ingin membaca sesuatu yang baru."
Aditama Gunawan menatapnya curiga. "Kamu aneh. Kamu bukan Cecilia yang dulu."
Jantung Ayunda berdebar kencang. Ia takut Aditama Gunawan akan menemukan rahasianya. Tapi Aditama Gunawan hanya menghela napas. "Entah kenapa, aku lebih suka kamu yang sekarang. Cecilia yang dulu... sangat membosankan."
Aditama Gunawan meninggalkannya sendirian. Ayunda terkejut dengan ucapan Aditama Gunawan. Ia tidak tahu apa yang terjadi antara Aditama Gunawan dan Cecilia yang asli, tapi ia tahu bahwa Aditama Gunawan tidak mencintai Cecilia. Aditama Gunawan mencintai orang lain.
Hari-hari berikutnya, Ayunda mencoba mencari tahu tentang Cecilia yang asli. Ia menemukan sebuah diary lama. Cecilia yang asli ternyata adalah seorang gadis yang rapuh dan menderita. Ia dijodohkan dengan Aditama Gunawan demi bisnis keluarga. Cecilia yang asli sangat mencintai Aditama Gunawan, tetapi Aditama Gunawan tidak pernah membalas perasaannya.
Ayunda mulai merasa kasihan pada Cecilia. Ia memutuskan untuk membantu Cecilia. Ia mulai mendekati Aditama Gunawan, bukan sebagai Cecilia yang patuh, tetapi sebagai Ayunda yang berani. Ia mengajak Aditama Gunawan berbicara, ia mendebat Aditama Gunawan, dan ia bahkan berani menentang Aditama Gunawan.
Aditama Gunawan terkejut dengan perubahan Cecilia. Ia mulai tertarik. Ia mulai melihat sisi lain Cecilia, sisi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Aditama Gunawan mulai sering pulang ke rumah, ia mulai mengajak Ayunda berbicara, dan ia bahkan mulai tersenyum.
Suatu malam, Aditama Gunawan duduk di samping Ayunda. "Kamu benar-benar sudah berubah," kata Aditama Gunawan.
"Cecilia yang dulu sudah mati," kata Ayunda, tanpa sadar. Aditama Gunawan menatapnya terkejut.
Ayunda menyadari kesalahannya. Ia mencoba mengelak, tetapi Aditama Gunawan hanya tersenyum. "Mungkin itu yang aku butuhkan. Seseorang yang baru, yang bisa membuatku melihat dunia dengan cara yang berbeda."
Aditama Gunawan mencium kening Ayunda. Ayunda terkejut, tetapi ia tidak menolak. Ia tidak tahu apakah Aditama Gunawan mencintai dirinya atau Cecilia, tetapi ia tahu bahwa ia sudah jatuh cinta pada Aditama Gunawan. Ayunda tidak lagi Ayunda, dan ia juga bukan Cecilia. Ia adalah seseorang yang baru, yang lahir dari tragedi dan menemukan cinta di tempat yang tak terduga.

